Sebuah kelompok remaja putri yang menamakan diri Geng Nero menggegerkan Kota Pati, Jawa Tengah. Orang tua yang memiliki anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP pun cemas.
Sebab, geng itu disebut-sebut suka menganiaya remaja putri, terutama yang masih SMP, tanpa alasan jelas. Parahnya, penganiayaan tersebut mereka rekam lewat video telepon seluler (ponsel), kemudian disebarkan.
Dalam sebuah rekaman video ponsel yang sudah beredar, terlihat sekelompok remaja putri anggota Geng Nero menampar korbannya berulang-ulang. Dari latar belakang rekaman itu, diduga penganiayaan dilakukan di sebuah gang.
Beberapa korban yang berani mengungkapkan kelakuan Geng Nero adalah WD dan L, keduanya berusia 14 tahun, siswi kelas IX sebuah SMP di Kecamatan Juwana. Saat diwawancarai di rumahnya di kawasan Juwana kemarin, keduanya mengaku tidak tahu alasan dirinya diperlakuan kasar seperti itu. ”Tiba-tiba saja empat orang menggelandang saya. Mereka mengaku dari Geng Nero, kemudian menampar saya berkali-kali,” ungkap WD.
Menurut dia, penganiayaan itu mereka lakukan setelah menggelandang dirinya ke sebuah tambak di Desa Bajomulyo, Juwana. Di tambak itu, keempat anggota Geng Nero menampar bergantian. WD tidak berani menanyakan alasan mereka menampar, apalagi melawan. ”Mereka berempat, sedangkan saya sendirian,” ujarnya.
Setelah kejadian itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan para penganiayanya tersebut. WD pun hanya berani bercerita kepada ibunya. Namun, kisah penganiayaan itu pun akhirnya beredar setelah muncul rekaman video ponsel tersebut.
Korban lain adalah putri LK, warga Desa Growong Lor. Semula, dia tidak tahu bahwa anaknya telah menjadi korban Geng Nero. Salah seorang tetangganya yang justru menceritakan hal itu.
Berdasar informasi tersebut, dia lantas ”menginterogasi” sang anak. ”Awalnya anak saya tidak mau mengaku. Tapi, setelah saya tunjukkan video rekaman yang beredar di ponsel, akhirnya dia mengaku,” katanya kemarin.
Berdasar rekaman tersebut dan pengakuan anaknya, LK melapor ke polisi kemarin. Sejauh ini, belum diketahui pasti pemimpin geng itu dan para anggotanya.
LK menceritakan, awalnya anaknya diundang dua teman sekolahnya ke suatu tempat. Tidak tahunya, dua temannya tersebut sudah dihajar Geng Nero. ”Setelah anak saya menyusul, ganti anak saya dipukul. Begitu saja yang diceritakan. Selebihnya tidak tahu pasti,” ujarnya.
Menurut kabar yang beredar mengenai motivasi Geng Nero, mereka tidak suka bila ada anak perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimiliki Geng Nero. Misalnya, soal pakaian, gaya rambut, atau penampilan lain>>www.jawaposonline.com
>>Sekelompok pelajar putri di Kecamatan Juwana, Pati, yang menamakan diri Geng Nero, Jumat, ditangkap Polisi, karena keberadaannya sangat meresahkan masyarakat.
Penangkapan gang nero berawal dari laporan masyarakat dan beredarnya video aksi kekerasan Geng Nero di Gang Cinta, Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana di kalangan masyarakat.
Keempat orang anggota gang nero tersebut terdiri atas Ratna, Yunika, Maya, dan Tika, yang masih duduk di bangku kelas I SMU yang berbeda-beda di Kabupaten Pati.
Menurut Kapolres Pati AKBP Hilman Thayib melalui Kasat Reskrim AKP Sulkhan, di Pati, Jumat, penangkapan dilakukan di rumah masing-masing anggota yang berada di Kecamatan Juwana tanpa perlawanan.
Ia mengakui, penangkapan tersebut berkat laporan dari masyarakat dan penyebaran video rekaman kekerasan mereka.
Ditambahkannya, anggota mereka semula berjumlah enam orang, kini tinggal empat orang saja. “Dua orang anggota lainnya sudah pindah rumah, ada yang di Bali dan Yogyakarta,” katanya.
Dalam video rekaman kekerasan gang tersebut, korban yang bernama Lusi, siswi kelas III SMP mendapat tamparan secara bergantian oleh anggota geng tersebut. Bahkan, korban sempat diludahi pelaku.
Ratna, salah satu anggota Geng Nero, mengakui, aksi kekerasan tersebut timbul karena ada masalah dengan Lusi.
Lantas, dia menceritakan permasalahan yang dihadapinya kepada ketiga temannya.
Sedangkan pembuatan rekaman video tersebut, dilakukan sekitar April lalu di Gang Cinta.
Saat aksi kekerasan dilakukan, Ratna, siswi SMU di Juwana mengaku, tidak ikut memukuli Lusi. “Yang menampar Lusi adalah Tika sama Yunika,” kata Ratna.
Sedangkan Tika, siswi kelas I di SMU Juwana mengakui, dirinya ikut menampar Lusi sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap temannya yang dihina oleh korban.
Menurut pengakuan sejumlah pelaku, terbentuknya gang nero saat mereka masih duduk dibangku sekolah dasar (SD).
Sementara itu, salah satu anggota Komite di dua sekolah di Kecamatan Juwana dan Batangan, Jamari, mengaku prihatin dengan aksi mereka.
“Pihak sekolah sudah memanggil orang tua masing-masing anggota gang nero tersebut,” katanya.
Terkait dengan arti gang nero, Jamari, mengungkapkan bahwa Nero diartikan jika “neko-neko” (bahasa jawa) dikeroyok atau macam-macam dikeroyok.(*) >>>www.antara.com



walah mas dan mbak, kalau remaja sekarang itu berbuat brutal maka wajar. Mereka kan meneladani para orang tua yang mengaku ulama yang juga suka anarkis.
Perlu dikembang biakan tuh cewek, he..he…
KENALIN ZXV_GENK……………..!!!GAK SEMUA GENK ITU JAHAT!!!OK,FRIENDS
kata orang islam “surga adalah tempat dimana sungai mengalir didalamnya, disana terdapat istri – istri yang cantik…..”
berarti surga hanya untuk kaum adam, dan berarti ……
youngcrew..
genk nero?
aneh rasanya kalo mereka nglakuin hal sadis gitu tanpa alasan yang jelas …
lagian , mereka tuh kayagak pernah dikasih ASI waktu kecil …
alias, kurang kasih sayang …
dan menurutku , 2 orang anggota yang pada pindah rumah harus ducari dan diwaspadai …
setuju teman2 ???
genk nero?
aneh rasanya kalo mereka nglakuin hal sadis gitu tanpa alasan yang jelas …
lagian , mereka tuh kaya gak pernah dikasih ASI waktu kecil …
alias, kurang kasih sayang …
dan menurutku , 2 orang anggota yang pada pindah rumah harus dcari dan diwaspadai …
setuju teman2 ???
yaH biArkaN lAh…orG mrKa yG beRbuAt…ngaPa puLa Qta rePoT2 mkiRin///namBah dOsa..
lagian mrKa juGa masIh anaK2,,,udH laH woIiiII,,,